Namun kondisi saat ini mengharuskan saya memulai belajar, mengkoordinir tim yang saya bawa. Satu-satunya orang yang akan jadi tempat buat belajar adalah suami tercinta. Dimana saya dan suami memang 1 kantor dan beliau sudah beberapa kali sebagai team leader.
Kenapa saya memilih suami??
Karena oh karena saya bisa telepon dan meminta arahan bimbingan beliau ketika saya merasa kesulitan tanpa saya merasa sungkan. Alhamdulillah suami bener-benar mnsupport saya meski dari jauh. Adakalanya kami berbeda pendapat terkait keputusan akhir, tetapi karena saya team leadernya, suami pun meyerahkan sepenuhnya kepada saya.
Jujur saja, meskipun sudah beberapa hari, tetapi saya belum sepenuhnya mandiri dan mengambil keputusan sendiri. Saya masih cukup tergantung suami dan bimbingan suami. Saya menyadari bahwa jiwa leader saya masih perlu ditingkatkan. Terung terang saya sangat menikmati proses ini.
Ada tantangan tak terduga, dimana saya harus mempertahankan pendapat yang seharusnya, kemudian menghadapi masyarakat yang beraneka ragam sehingga perlu diberikan pernyuluhan dan penjelasan berkali kali yang tentunya cukup menguras emosi. Hampir saja saya kelepasan emosi, tapi akhirnya saya bisa bersabar dan menyelesaikan tantangannya. Saya menyadari bahwa sebuah kemandirian tidak dapat serta merta jadi dalam 1 malam, hal ini membutuhkan latihan yang berulang dan konsisten. InsyaAllah
Bantaeng, 30 November 2017.












