Pengikut

Kamis, 30 November 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian "Belajar Menjadi Team Leader_Day1"

Akhirnya kesempatan tersebut telah tiba, di mana saya ditunjuk menjadi team leader suatu kegiatan kantor di Kabupaten tertentu. Kegiatan ini mengharuskan saya dinas luar selama 7 hari bersama tim saya. Ini adalah kali pertama saya menjadi team leader, dimana sebelumnya saya merupakan tim support plus tim hura hura.

Namun kondisi saat ini mengharuskan saya memulai belajar, mengkoordinir tim yang saya bawa. Satu-satunya orang yang akan jadi tempat buat belajar adalah suami tercinta. Dimana saya dan suami memang 1 kantor dan beliau sudah beberapa kali sebagai team leader.
Kenapa saya memilih suami??

Karena oh karena saya bisa telepon dan meminta arahan bimbingan beliau ketika saya merasa kesulitan tanpa saya merasa sungkan. Alhamdulillah suami bener-benar mnsupport saya meski dari jauh. Adakalanya kami berbeda pendapat terkait keputusan akhir, tetapi karena saya team leadernya, suami pun meyerahkan sepenuhnya kepada saya. 

Jujur saja, meskipun sudah beberapa hari, tetapi saya belum sepenuhnya mandiri dan mengambil keputusan sendiri. Saya masih cukup tergantung suami dan bimbingan suami. Saya menyadari bahwa jiwa leader saya masih perlu ditingkatkan. Terung terang saya sangat menikmati proses ini. 

Ada tantangan tak terduga, dimana saya harus mempertahankan pendapat yang seharusnya, kemudian menghadapi masyarakat yang beraneka ragam sehingga perlu diberikan pernyuluhan dan penjelasan berkali kali yang tentunya cukup menguras emosi. Hampir saja saya kelepasan emosi, tapi akhirnya saya bisa bersabar dan menyelesaikan tantangannya. Saya menyadari bahwa sebuah kemandirian tidak dapat serta merta jadi dalam 1 malam, hal ini membutuhkan latihan yang berulang dan konsisten. InsyaAllah


Bantaeng, 30 November 2017.

Rabu, 15 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 12 "Abdi Negara adalah Pelayan Masyarakat"

Ini adalah hari keempat saya dan suami Dinas Luar di Lokasi yang berbeda. Saat berjauhan seperti ini, saya seringkali kurang bisa menjaga emosi sehingga mudah menangis, tersinggung, marah dll.

 Saat video call dengan suami, beliau menyampaikan bahwa sepertinya jadwal kepulangannya mundur dari rencana semula. Dikarenakan adanya permintaan tera dari SPBU di Seram Bagian Timur. Ketika suami menyampaikan niatan tersebut, saya langsung kesal karena kepulangannya harus ditunda dan menyampaikan kenapa tidak dikerjakan oleh tim lain? Protes Saya.

Tetapi Paksu menyadari bahwa hal tersebut akan memberatkan pihak SPBU sehingga kemungkinan tim Paksu lah yang akan kerja disana. Saya sadar, bahwa sebagai PNS memang melayani masyarakat lebih diutamakan apalagi dalam kondisi Paksu sedang berada di lokasi atau kabupaten yang bersampingan dengan Seram Bagian Timur sehingga lebih menjangkau lokasi.

Pembicaraan kami hentikan karena adzan mahrib, kemudian kami lanjutkan kembali setelah sholat. Mengingat masalah tambahan hari tersebut adalah hal sensitif (buat saya), maka saat telpon selanjutnya kamipun tidak membahas hal tersebut. Meskipun ketika saya ungkit kembali akhirnya saya pun menangis (hahaha). Tapi saya sadar tangisan saya tidak akan mengubah situasi dimana kemungkinan besar Paksu tetap melanjutkan dinas tersebut setelah di acc pimpinan. Itulah resiko pekerjaan kami, dimana kami harus siap sewaktu waktu mengerjakan pekerjaan yang lama dan cukup jauh.

Saya bersyukur paksu tidak protes dan selalu menunggu saya selesai menangis (setelah hampir 1 jam), kamipun sepakat menyampaikan hal lainnya tentang keadaan kami masing-masing. Alhamdulillah, pembicaraan ditutup dengan kecupan manis dipulau seberang.

Sabtu, 11 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 11 "Aku Di sini Dan Kau Disana"

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara..

Sepertinya lirik lagu itulah yang menggambarkan kami saat ini. Paksu mendapatkan tugas ke Masohi, Maluku Tengah sementara saya tugas ke Malili, Luwu Timur selama seminggu ke depan.
Sebagai Abdi Negara, kami harus selalu siap ketika tugas dimanapun. Meskipun 1 kantor, frekuensi saya dan suami dinas bersama itu sangatlah kecil dan hampir tidak mungkin.

Selama LDM sementara inilah biasanya kami harus lebih menjaga emosi masing-masing. Kami menyediakan waktu minimal 1 jam untuk senantiasa berkomunikasi via video call untuk menanyakan kabar, memberi support dan semangat. Ini biasa dilakukan menjelang tidur atau pagi hari sebelum berangkat ke lokasi yang akan dituju.

Sama halnya hari ini, dimana suami harus bernagkat tengah malam ke bandara. Kami berkomunikasi untuk memberi kabar tentang keadaan, seperti menyampaikan ketika Suami sampai bandara, naik pesawat, ketika sudah sampai di Ambon, perjalanan dari Ambon ke pelabuhan Tulehu, Sesampainya di Masohi sampai dengan di Hotel.
Sedikit kabar dari pasangan tentunya akan membuat hati kita menjadi tenang. Seperti itulah kami ketika harus LDM atau dinas di luar kota..

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 10 "Pentingnya Keterbukaan dan Kejujuran Pasangan"

Sejak awal menikah, saya dan suami sepakat untuk saling terbuka dan jujur hal apapun. Tujuannya tentu supaya tidak ada kebohongan antara saya dan suami. Sepahit atau seburuk apapun informasi yang akan disampaikan tetap harus kami sampaikan. Meski awal mula berat menerimanya, tapi perlahan lahan kami akan saling memahami.

Seperti sore tadi ketika kami makan bersama, Suami tiba-tiba menyampaikan bahwa ada temannya (cewe) yang tiba-tiba menyapa suami via medsoa. Saya sebenernya tidak kaget, karena saat kami ngobrol sebelumnya memang saya tidak sengaja sempat melihat temannya menyapanya via sosmed. Saya bersyukur karena suami langsung menyampaikan dan menceritakan bahwa ada teman SMA-nya yang tiba-tiba ngajak chat, padahal sejak lulus mereka tidak pernah saling menyapa.

Kamipun kemudian membahasnya dengan pikiran tenang dan terbuka tanpa ada sedikitpun rasa curiga ataupun negatif thingking saya kepada suami. Kami berkesimpulan bahwa mungkin temannya sedang ingin bersilaturahim karena sudah lama tidak saling menyapa.

Saya sangat menghargai dan bersyukur karena suami terbuka dalam hal-hal yang demikian sehingga mencegah adanya prasangka negatif. Saya pun belajar banyak dari suami tentang pentingnya kesabaran dan ketenangan. Semoga rumah tangga kami senantiasa dikuatkan ikatannya dan menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah.

Jumat, 10 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 9 "Something Special"

Hari ini saya kehabisan ide menulis bahasan tema Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, padahal ini baru hari ke 9 dari target saya 17 hari selama 1 bulan.
Saya tidak tau harus menulis apa, rutinitas kami dari pagi sampai sore seperti biasa, yaitu di kantor. Selama dikantor, saya dan suami melakukan pekerjaan masing-masing sambil beberapa kali saya menelepon suami meminta bantuan Beliau.

Sekitar pukul 10, suami minta izin istirahat di kontrakan. Namun, saya masih membutuhkan Paksu untuk mengerjakan tugas kami. Akhirnya saya membujuk Paksu supaya istirahatnya sekalian habis sholat Jumat, dan akhirnya Paksu bersedia.. ♡♡

Sampai dikontrakan, kami melanjutkan kerjaan menyusun rak buku yang sudah tertunda beberapa hari. Lalu saya menyampaikan ke Paksu bahwa tugas menulis saya belum saya kerjakan. Saya belum dapat ide.
Iseng-saya pun tanya ke Paksu,
"Mas, hari ini kita ada bertengkar apa engga?"
"Aduh,, ini lemarinya belum selesai, nanti aja ributnya." jawab Paksu.
"Saya kehabisan ide menulis nih ay, ada yang spesial g hari ini?" Tanya saya.
"KFC tadi siang itu spesial loh." Jawab Paksu..

Ternyata oh ternyata hari ini yang spesial bagi Paksu adalah KFC yang saya pesankan untuk Paksu makan siang.. Hehhe, okelah tidak apa-apa saya kalah sama KFC. Besok besok pasti saya yang lebih spesial. Hihiii..

Kamis, 09 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 8 "Ketika Paksu Sakit"

Beberapa bulan ini, aktivitas kantor kami sangatlah padat. Bahkan di waktu weekend pun kami masih harus bekerja karena banyaknya permintaan pelayanan Tera/Tera Ulang dari hampir semua kabupaten di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua. Puncaknya kemaren Paksu mulai terserang flu. Sedih rasanya, melihat Paksu yang biasanya aktif dan cerewet menjadi lemas and pucat :(,,

Meskipun flu, hari ini Paksu tetap memaksakan diri untuk ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang diselesaikan. Efeknya flunya pun semakin parah, sementara hari minggu besok Paksu ada dinas ke luar Kota. 

Sebagai istri yang baik, cielah,, sayapun mencoba untuk merawat Paksu yang sedang flu. Berhubung, beliau tidak makan malam, saya menyiapkan jus buah naga. (Sayangnya keburu habis sebelum sempat difoto). 
Tidak lupa juga saya menawarkan apakah Paksu perlu dimasakkan air panas untuk mandi. Beliaupun menyambut baik usulan tersebut. 

Setelah mandi, Paksu sebenarnya masih ingin menyelesaikan rakitan rak sepatu yang belum kelar. Hanya saja saya tidak mengizinkan dan meminta Paksu untuk istirahat lebih cepat. 
Saya juga mengingatkan Paksu untuk tidak main HP dan langsung istirahat. (Saya khawatir Paksu masih mengurus pekerjaan via HP). Namun, paksu nego dan menyampaikan bahwa Beliau main HP untuk sekadar buka Medsos bukan untuk mengurus pekerjaan. Dan alhamdulillah, Paksu akhirnya bersedia istirahat setelah sebelumnya minum vitamin C terlebih dahulu.

Sisa Vitamin C yang diminum Paksu

Mohon doanya ya, semoga suami saya bisa segera sembuh sakitnya. Aamiin.
NB: Paksu g mau difoto soalnya lagi sakit 

Rabu, 08 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 7 "Jus Alpukat"

Setiap malam saya biasa membuat jus buah untuk suami. Oya, sudah beberapa bulan ini Paksu makan malamnya hanya berupa jus buah. Bisa jus semangka, melon, nanas, buah naga, atau alpukat. Hal ini berawal ketika beberapa bulan lalu kolesterol suami sepertinya naik sehingga sulit beraktivitas seperti biasanya. Sejak saat itulah, Paksu merutinkan untuk minum jus buah setiap malam.

Kali ini saya membuat jus alpukat. Berdasarkan artikel yang pernah saya baca, salah satu manfaat alpukat adalah menurunkan kolesterol. Sehingga sesuai dengan tujuan kami. Selain itu, buah alpukat juga kaya akan lemak yang baik yang tentunya bagus untuk diet. 


Berhubung suami pulang agak malam, saya pun bisa menyiapkan jus alpukat terlebih dahulu kemudian menyimpannya di dalam kulkas supaya tetap dingin. 
Seperti yang sudah saya duga, saat sampai di rumah Paksu langsung menanyakan apakah saya sudah bikin jus? 
Langsung saya jawab, "Sudah dong sayang, Aku kan istri yang baik". Sambil nyengir nyengir dan mengambilkan jus yang ada di kulkas. 
Paksu pun menanggapi, "MasyaAllah, istriku solehah sekali".. *Langsung klepek-klepek 

Itulah percakapan kecil di keluarga kami. Saya lebih sering memanggil suami dengan panggilan sayang, meskipun Paksu masih cukup jarang memanggil saya dengan sebutan "Dek maupun Sayang". Alasannya sih supaya istimewa kalau jarang digunakan. Tapi anehnya, ketika saya meminta izin untuk mengurangi intensitas saya memanggil suami dengan panggilan sayang, suami justru tidak mengizinkan.. 

Dan jujur, saya selalu menanti-nanti momen di mana suami saya memanggil saya dengan sebutan "Dek atau Sayang". Hihii.. karena hal tersebut barang langka sehingga selalu ditunggu. ♡♡♡♡


Selasa, 07 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 6 "Merakit Lemari Buku"

Sudah lama kami merencakan untuk membeli lemari buku, akhirnya minggu kemarin baru terealiasi. Setelah menimbang dan berdiskusi beberapa hal bersama suami, kamipun sepakat untuk membeli di Informa.

Hari ini lemari tersebut sudah diambil sama Paksu dan dibawa ke kontrakan. Sayangnya, lemarinya memang belum dirakit, sehingga harus kami kerjain rame rame buat merakit raknya. Sesuai instruksi di buku panduan, memang diperlukan 2 orang untuk merakit rak tersebut. Jadi pas deh, saya dan Paksu :) 

Untuk merakit lemari ternyata diperlukan komunikasi yang baik. Di mana saya bertugas sebagai asisten dan menyiapkan peralatan sementara Paksu merakit lemari. Saya mengikuti instruksi Paksu dan sesekali mengecek apakah desain yang disusun sudah sesuai dengan Buku Panduan. Di sinilah peran kami dibutukan, untuk saling mengingatkan ketika ada yang salah dan juga mensupport ketika ada yang butuh bantuan.

Sudah sekitar 45 menit kami mulai merakit. Sepertinya sudah 40% terbentuk lemarinya.

Semoga malam ini rak lemarinya sudah selesai dirakit sehingga koleksi buku buku kami bisa segera duduk manis pada tempatnya. 




Senin, 06 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 5 "Makan Siang"

Liburan saya sudah berakhir dan saatnya kembali ke realita. Welcome to Makassar again ^_^..
Waktu menunjukkan pukul 10.00 Wita ketika saya sampai di kontrakan. Berhubung hari ini masih cuti, maka saya masih bisa bersantai-santai di kontrakan, Sementara Paksu langsung kembali ke kantor setelah mengantar saya sampai di kontrakan. 

Mata saya sebenernya masih mengantuk, tapi tumpukan cucian kotor dan juga kontrakan yang belum disapu berhari hari sudah memanggil untuk diperhatikan. Akhirnya saya mulai mencicil mencuci pakaian kotor sisa liburan kami. Sambil menunggu cucian, saya menanyakan kabar suami apakah sudah sampai kantor. Sekaligus berpesan supaya nanti istirahat ke kontrakan. 

Waktu makan siang tinggal 1 jam lagi, sementara saya belum menyiapkan makan siang. Buka-buka isi kulkas, alhamdulillah masih ada kacang panjang, tempe, bakso dan telur. Akhirnya saya langsung berencana memasak sayur kacang panjang, tempe orek, dan telur ceplok. Tempe orek merupakan kesukaan suami, sehingga membuat saya semakin semangat untuk memasak. Tepat pukul 12.00 Wita, makan siang sudah siap. 


Dengan semangat 45 melaporkan ke Paksu kalau makan siang sudah siap. 
"Sayang, udah siap", Lapor saya. 
Tapi sampai 20 menit belum ada respon. Akhirnya miscall dan baru kemudian dibalas kalau rapatnya masih alot (Biasanya saya langsung ngambek dan kesal kalau suami terlambat respon dan telat datang. Tapi, saya tahan karena rapatnya belum dapat ditinggal dan tentunya saya harus menyemangati supaya Paksu tetap semangat :D) 

Saya pun membalas Okay, dan menyampaikan kalau saya makan duluan serta tidak lupa untuk menyemangati Paksu semoga diskusinya dimudahkan. Pukuk 13.00 lewat akhirnya Paksu sampai dikontrakan dan menikmati makan siangnya yang sederhana. Terima kasih sayang. 



Minggu, 05 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 4 "Indahnya Silaturahim"

Ini merupakan hari ketiga saya dan suami berada di Jakarta. Tujuan utama kami sebenarnya menghadiri Akad Nikah sepupu saya di Tangerang. Kami datang dari pukul 08.00 pagi karena mau menghadiri Akad nikah yang akan dilaksanakan pada pukul 09.00. Selesai akad nikah, dilanjutkan dengan acara santai. Sambil menunggu kehadiran Pakde saya yang dari Lampung, saya mengobrol bersama saudara yang lain.
Mr Tiyo and Mrs Aneke

Hari beranjak siang, dan sepertinya pakde saya juga belum datang. Sementara itu suami sudah mulai terlihat lelah. Akhirnya saya mencoba untuk menghubungi pakde untuk memastikan pukul berapa beliau bisa datang. Setelah itu saya menyampaikan ke suami, "Mas, pakde baru datang habis duhur. Kita mau nunggu di hotel atau di sini?" Tanya saya.
"Ke hotel saja yuk," Jawab Suami.

Kemudian saya mencari kendaraan untuk menuju ke hotel sambil menunggu kedatangan pakde saya.
Setiba di hotel, Suami minta izin untuk istirahat 10-30 menit. Pukul 13.00 saya membangunkan suami dan menyampaikan bahwa pakde sudah sampai. Setelah Sholat duhur, kami segera bersiap-siap menuju ke tempat resepsi.

Suasana di tempat resepsi lebih ramai dibanding tadi pagi, tapi tidak menghalangi saya untuk berkumpul dan bersua bersama keluarga besar saya. Saya juga sekaligus memperkenalkan suami saya kepada keluarga besar yang dulu belum sempat hadir saat kami menikah. Berhubung suami saya tipe pendiam dan pemalu ketika berada di tempat baru, maka saya pun berusaha untuk mengajak suami ngobrol santai bersama keluarga besar.
With my best Mom and my best neighbour (Siti dan Mb Ima)
Saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bersilaturahim ke Jakarta. Saya bisa berkumpul dan bertemu dengan Ibu serta saudara saya yang tinggal di Lampung, Kebumen, dan Jabodetabek. Serasa pulang kampung kembali :D. Alhamdulillah suami cukup pengertian mengizinkan saya berkumpul bersama keluarga saya dari Kebumen.

Bersama Bude dan Sepupu (Tiyo). Happy Wedding, Samara ya..
Dan ini adalah oleh oleh dari Lampung yang kami tunggu tunggu :D,, 



Sabtu, 04 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif: Day 3 "Mengintip Kampung IKEA"

Ini adalah hari kedua kami berada di Jakarta. Rencananya pada hari ini saya dan suami mau mengintip kehebohan kampung IKEA yang beberapa tahun ini sudah saya dengar tetapi sekalipun belum pernah ke sana. Sehingga kami memang meniatkan untuk ke IKEA sekaligus reuni bersama teman-teman kuliah saya.

Kami berangkat dari Stasiun Bukit Duri menuju stasiun Tangerang, kemudian dilanjutkan dengan naik GOCAR menuju ke Hotel untuk meletakkan barang bawaan kami. Pukul 12 kami beraangkat dari Hotel menuju ke IKEA. Kami memesan ojek online, tapi ternyata butuh waktu yang lumayan lama untuk direspon. Saya pun mulai bosan menunggu karena sudah 30 menit blm jadi berangkat. Akhirnya kami mendapatkan mobil dan berangkat pukul 13.00. Sepanjang perjalanan cukup macet, sehingga kami hanya bermain dengan hp masing masing.

Sekitar pukul 14.00 kami sampai di IKEA. Sesampainya di sana, akhirnya saya bertanya kepada suami. "Sayang, kita mau makan dulu atau mau langsung liat showroom?" 
"Kita makan dulu aja" jawab suami. 
Akhirnya kamipun makan sambil menunggu kedatangan temen-temen saya yang masih terjebak macet dan hujan. 

Sambil menunggu kedatangan teman-teman saya, akhirnya kami memutuskan untuk melihat Showroom terlebih dahulu. 
Kesan yang pertama saya lihat adalah tempatnya luas banget, nyaman buat anak anak maupun keluarga, dan membuat kita merasa di rumah sendiri. Menyadari hal ini, suami pun berkomentar. "Sepertinya toko yang kemaren kita lihat tidak ada apa apanya dibandingkan ini".

Dan saya cuma senyum senyum saja mengingat pagi sebelum berangkat saya bilang ke suami dengan nada bercanda, "Jangan-jangan nanti malah Mas yang lebih betah dibanding saya pas di sana" Canda Saya. Ternyata ketika sampai memang suami terlihat lebih antusias dan ingin mengelilingi semua showroom.


Meski dengan tenaga sisa, akhirnya kami selesai keliling dan belanja beberapa barang yang masih memungkinkan untuk dibawa ke makassar menggunakan pesawat. 

Setelah selesai berkeliling, akhirnya saya bertemu dengan sahabat sahabat saya.


Alam Sutera, 4 November 2017
Bersama para Littaers 

Jumat, 03 November 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif : Day 2 "Packing Oh Packing"


Hari ini saya dan suami berencana berangkat ke Jakarta karena ada acara nikahan keluarga. Persiapan sebelum-sebelumnya sudah dapat dikatakan Oke, mulai dari izin cuti saya, izin mas suami, tiket pesawat, penginapan, dan barang-barang yang akan kami bawa.

Tapi ternyata oh ternyata, ada drama semalam saat kami sedang packing. Jadi selama di Jakarta kami berencana membawa 2 buah tas ransel supaya gampang dibawa ke mana-mana. Barang-barang yang akan kami bawa, dimasukkan ke dalam tas ransel suami terlebih dahulu, baru sisanya di tas saya. Berhubung tas suami agak besar, jadi saya berencana untuk menambah beberapa barang-barang saya ke tas suami sehingga tas saya hampir kosong. Sempat ada miskom, di mana saya mengira bahwa suami keberatan kalau barang saya ditaruh di tas suami. Hal ini menyebabkan saya menjadi kesal dan diam. Suami lalu keluar kamar dan saya lanjut packing. Setelah itu saya mencuci piring, dan selesai mencuci piring kami sudah berbaikan kembali. Kami tidur tanpa membahas masalah miskom saat packing kami barusan.

Pagi sebelum ke Bandara, suami saya berkata "Dek, bajunya sebagian udah aku pindah ke tasku (Maksudnya di sini tas suami). Jadi tas kamu barangnya tinggal sedikit".

Kelihatan kan mana tas saya dan mana tas suami :D

Lalu dengan senyum saya jawab "Makasih Sayang"

Karena suasana sudah tenang, kamipun membahas kembali miskom tanpa melalui emosi. Sebenernya suami bermaksud untuk menyampaikan bahwa sebaiknya jangan di masukkan ke dalam tas suami semua. Karena jika dimasukkan di tas suami semua, maka kemungkinan besar tas saya tidak jadi terpakai dan cuma bawa 1 tas. Padahal kami perlu membawa 2 tas, karena saat pulang dari Jakarta biasanya membawa barang lumayan sehingga perlu tas tambahan.

Kemudian saat saya bertanya kenapa tidak disampaikan dari semalam, suami menjawab bahwa ketika kondisi masing masing masih emosi maka apapun penjelasannya pasti tidak akan didengarkan. Maka dari itu, suami menyampaikan maksud dari ucapannya semalam ketika kami berdua sudah tenang.

Seperti yang telah disampaikan dalam materi  Kelas Bunda Sayang Sesi #1 "Komunikasi Produktif", saya menyadari bahwa FoE dan FoR memang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya. Di mana, FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll. Sedangkan FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Solaria Sekarno Hatta Int Airport, Jumat 2 November 2017.
With you



Review Scarlett Whitening Body Care : Body Scrub, Brightening Shower Scrub dan Brightening Body Lotion

  Bekerja dengan rutinitas di ruangan ber-AC mengharuskan saya untuk selalu menjaga kulit agar senantiasa lembab dan tidak kering. Belum l...